Sabtu, 25 Januari 2014

Rumah.

Pernah aku membaca salah satu tulisan blogger yang menceritakan tentang arti dari sebuah rumah...
bagiku, perempuan beranjak 22 tahun ,
rumah tidak hanya sebuah rumah.
rumah memiliki arti lebih dari kumpulan bata ataupun atap :)


then....
Here is my Parent's Home...



Aku ingin bercerita tentang rumah.
Ya rumah yang aku tempati ini adalah rumah impian mamapapaku sewaktu muda...rumah yang ia berikan hasil kerja kerasnya.
Rumah ini memang tidak besar, tapi pengorbanan mamapapa begitu besar untuk rumah ini. Dan itu lebih dari cukup untuk kami (aku dan kedua kakakku). Untuk kami belajar banyak hal dalam kehidupan.

21 tahun lebih aku terlahir dan dibesarkan dirumah ini,..
Tentu bukan waktu yang sebentar yang membuat rumah terlalu berarti bagiku.
Ya, rumahku.
Rumah yang mamapapa beli dari hasil kerja keras beliau , dengan arsitektur sesuai dengan yang mama mau, memiliki jendela-jendela besar di tiap sisinya, berpagar hitam dan memiliki teras yang sangat nyaman dan menjadi salah satu tempat favorite kami untuk berbincang dan bersenda gurau.
Rumah yang diberikan papa untuk anak-anaknya tumbuh besar, terutama aku. Rumah yang dibeli papa dan diberikan pada mama seutuhnya mengenai barang apa yang berhak ada di dalam dan hiasan apa yang pantas dipajang atau hanya sekedar disimpan dalam lemari.

Rumah yang selalu aku rindukan ketika aku dirantau,
Rumahku, kebanggaanku.. Istanaku.


Dari rumah aku belajar. Belajar menumbuhkan segala keinginan, membangun tekad yang kuat untuk berusaha mewujudkannya.
Di rumah ini pun saksi tempatku memiliki cita-cita, dari cita-cita anak kecil yang ingin  menjadi dokter ,guru, penyiar,jurnalis dll... hingga waktu yang merubah pola pikirku untuk memiliki cita-cita orang dewasa, Termasuk cita-citaku menjadi rumah.
Entah kenapa... dari rumah ini aku juga ingin sekali menjadi rumah.

Salah satu inspirasi adalah kata-kata pacar&sahabat terbaikku mas Erdhi tentang rumah.
Waktu itu dia pernah nyeletuk gini:
Kamu tau gak, bagiku rumah dan keluarga itu berarti banget. Seburuk apapun aku, sesering apapun aku gak ada dirumah, selama apapun aku ada diluar rumah, tapi tujuan terakhir selalu rumah. Karena cuma rumah dan keluarga yang mampu menerima kita kembali, siapapun kita diluar. Itu sudah terbukti. ”

JLEB banget dengernya, dari mulut seorang laki-laki yang biasanya tidak terlalu ekspresif lalu tiba-tiba bercerita tentang kekagumannya dengan rumah, bercerita tentang rasa terimakasihnya pada keluarga dan sebuah rumah..

Well, akhirnya karena aku udah bukan anak kecil lagi, terbesitlah akhirnya cita-cita pengen jadi rumah.
Karena aku sadar banget aku adalah anak perempuan yang sedang tumbuh dewasa, yang cepat atau lambat akan dibawa keluar dari rumah oleh suamiku nantinya, dan suatu hari nanti harus bisa membangun keluarga sendiri. Menjadi rumah seperti yang telah mamapapa lakukan sebelumnya untuk keluarga dan anak-anaknya, bahkan kalau bisa harus lebih baik , lebih kuat, dan lebih kokoh. Sampai kapanpun...



Makanya aku pengen banget jadi rumah. Rumah yang baik dan nyaman untuk penghuninya (anak dan suamiku nantinya) dan itu termasuk cita-cita tertinggi. Kenapa? Karena meskipun aku punya cita-cita menjadi wanita yang bisa mandiri dan berkarier suatu hari nanti, aku juga ingin jadi istri dan ibu yang baik di waktu yang sama..., menjadi rumah bagi suami dan anak-anakku., yang bisa selalu mereka rindukan, yang bisa menjadi tempat pulang kepercayaan mereka, yang bisa menjadi pendengar cerita bahagia,  keluhan dan pengalaman pengalaman hebat mereka seharian, yang bisa menjadi kekuatan untuk mereka  terus memiliki mimpi dan cita-cita yang baik, dan yang bisa menjadi sumber semangat dan doa kepercayaan bagi mereka untuk mencapai segala mimpi-mimpinya...



May I get An Aamiin? :)
Aamiin.
Cita-cita mulia dari sebuah rumah,
Jatikramat-pondok gede, Bekasi . 
:)  

with love: Yuni Astrini Putri (uty) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar