#BELAJAR DARI CINTA YANG TIDAK PERNAH
BERAKHIR #
Karya: Yuni Astrini Putri
Dalam heningnya malam saat sedang
merindukan sebuah pulang
Saat sedang merindukan sebuah dekap…
Terpaut ratusan kilometer Jarak……
Berupaya menguatkan hati ditengah rindu
yang berkecamuk untuk membahas tentang sosok kebanggaanku yang satu ini….
40 tahun , disaat hampir 23 tahun yang
lalu…..
Usia yang tak lagi muda untuk berjuang
melahirkan seorang anak, tapi dilakukan oleh wanita super tangguh yang
dianugerahi tuhan untuk melahirkanku dalam takdirNya lewat rahimnya…
kupanggil beliau mama.
Mama adalah anak pertama dalam
keluarganya, sejak lulus SMP mama adalah tumpuan keluarga, karena ketujuh
adik-adiknya yang saat itu masih kecil masih harus tumbuh …. Maka, tiada pilihan lain dari seorang anak supir
dan guru yang pada jaman itu dipandang sebelah mata…. Mama harus merantau.
Pilihan beliau berjuang di tanah rantau
,sekolah dan menjadi perawat berpuluh-puluh tahunlah yang setidaknya bisa
mengajari beliau untuk kuat menjadi mandiri, belajar hidup , serta berusaha
untuk membantu menghidupi kehidupan orangtua dikampung dan membantu
adik-adiknya untuk tumbuh mendewasa dengan baik…
Bersuami pegawai bank, tidak membuatnya
hanya duduk manis diam saja, tetapi dengan seizin papaku mama tetap bekerja….
“Sebagai perempuan, mama bekerja bukan
untuk menghilangkan tanggung jawab yang sesungguhnya sebagai istri, ibu dan
anak…... saat itu mama bekerja dengan niat baik untuk tetap bisa membahagiakan
suami, mengurus anak-anak dan tentu juga mencukupi dan membahagiakan kedua
orangtua yang semakin renta, dan membahagiakan orang lain tanpa perlu berpangku
tangan…Hidup itu tentang tanggung jawab..” Begitu katanya berulang-ulang kali diceritakan padaku.
Ya begitulah mamaku,
Di usianya yang tidak lagi muda beliau
sering bercerita hal yang sama untuk kesekian kali dan aku tetap menjadi
pendengar setianya sambil bergurau khas kami diteras rumah dan merebahkan pelukanku dalam pangkuannya yang damai.
Biarlah ku tahan egoku untuk selalu mendengar cerita yang sama, karena beliau
meredam egonya untuk bisa membesarkanku.
Ya, diusianya yang ke 40 pada tanggal 24
Juni 1992…. Mama meredam egonya untuk meninggalkan pekerjaannya hanya untuk
merawat dan membesarkanku (anak premature dengan berat 1,9 kg) yang baru saja
dilahirkan pada saat itu. Meredam ego demi sebuah pilihan yang ia yakini sangat
tepat…..
Aku selalu berusaha yang terbaik yang ku bisa untuk mencintai mama… tetapi aku
sadar mungkin tidak akan pernah bisa sebaik kasih mama mencintaiku….
Aku bukan anak terbaik diseluruh dunia,
tapi aku dapatkan kasih karunia… Allah berikan mama terbaik yang ada dalam
semesta….. :)
Mama, setidaknya sesering apapun kita
beradu pendapat, percayalah…. ada doa
yang tidak pernah lupa kupanjatkan semoga Allah selalu memberikan mama
kesehatan, perlindungan keselamatan , serta kebahagiaan dunia akhirat,
Mama sudah lebih dari cukup menjadi mama
yang terbaik yang mengajari kami mengandalkan kekuatan dan kasih sayang Allah,
menjadi panutan kesederhanaan untuk tulus berjuang agar dapat bermanfaat baik
bagi sesama manusia…
Salam rindu ya mah, dari anak bungsu
mama dirantau yang sedang berharap banyak, lewat doa mama… semoga Allah
meridhoi serta merestui segala urusan agar dilancarkan dan dimudahkan. karena mama yang sering berkali-kali bilang bahwa "teruslah menyelesaikan dengan baik apa yang sudah kamu mulai... Allah maha baik dan mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan kamu perjuangkan...."
Terimakasih mama, God knows How much I
love you……
Love, Putri.
Tulisan
ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan
lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”
















