Rabu, 21 Januari 2015

#BELAJAR DARI CINTA YANG TIDAK PERNAH BERAKHIR #



#BELAJAR DARI CINTA YANG TIDAK PERNAH BERAKHIR #
Karya: Yuni Astrini Putri

Dalam heningnya malam saat sedang merindukan sebuah pulang
Saat sedang merindukan sebuah dekap…
Terpaut ratusan kilometer Jarak……
Berupaya menguatkan hati ditengah rindu yang berkecamuk untuk membahas tentang sosok kebanggaanku yang satu ini….

40 tahun , disaat hampir 23 tahun yang lalu…..
Usia yang tak lagi muda untuk berjuang melahirkan seorang anak, tapi dilakukan oleh wanita super tangguh yang dianugerahi tuhan untuk melahirkanku dalam takdirNya lewat rahimnya…
kupanggil beliau mama.

Mama adalah anak pertama dalam keluarganya, sejak lulus SMP mama adalah tumpuan keluarga, karena ketujuh adik-adiknya yang saat itu masih kecil masih harus tumbuh …. Maka,  tiada pilihan lain dari seorang anak supir dan guru yang pada jaman itu dipandang sebelah mata…. Mama harus merantau.
Pilihan beliau berjuang di tanah rantau ,sekolah dan menjadi perawat berpuluh-puluh tahunlah yang setidaknya bisa mengajari beliau untuk kuat menjadi mandiri, belajar hidup , serta berusaha untuk membantu menghidupi kehidupan orangtua dikampung dan membantu adik-adiknya untuk tumbuh mendewasa dengan baik…

Bersuami pegawai bank, tidak membuatnya hanya duduk manis diam saja, tetapi dengan seizin papaku mama tetap bekerja….


“Sebagai perempuan, mama bekerja bukan untuk menghilangkan tanggung jawab yang sesungguhnya sebagai istri, ibu dan anak…... saat itu mama bekerja dengan niat baik untuk tetap bisa membahagiakan suami, mengurus anak-anak dan tentu juga mencukupi dan membahagiakan kedua orangtua yang semakin renta, dan membahagiakan orang lain tanpa perlu berpangku tangan…Hidup itu tentang tanggung jawab..” Begitu katanya berulang-ulang kali diceritakan padaku.

Ya begitulah mamaku,

Di usianya yang tidak lagi muda beliau sering bercerita hal yang sama untuk kesekian kali dan aku tetap menjadi pendengar setianya sambil bergurau khas kami diteras rumah dan merebahkan  pelukanku dalam pangkuannya yang damai. Biarlah ku tahan egoku untuk selalu mendengar cerita yang sama, karena beliau meredam egonya untuk bisa membesarkanku.

Ya, diusianya yang ke 40 pada tanggal 24 Juni 1992…. Mama meredam egonya untuk meninggalkan pekerjaannya hanya untuk merawat dan membesarkanku (anak premature dengan berat 1,9 kg) yang baru saja dilahirkan pada saat itu. Meredam ego demi sebuah pilihan yang ia yakini sangat tepat…..

Aku selalu berusaha yang terbaik  yang ku bisa untuk mencintai mama… tetapi aku sadar mungkin tidak akan pernah bisa sebaik kasih mama mencintaiku….

Aku bukan anak terbaik diseluruh dunia, tapi aku dapatkan kasih karunia… Allah berikan mama terbaik yang ada dalam semesta….. :)

Mama, setidaknya sesering apapun kita beradu pendapat, percayalah….  ada doa yang tidak pernah lupa kupanjatkan semoga Allah selalu memberikan mama kesehatan, perlindungan keselamatan , serta kebahagiaan dunia akhirat,  

Mama sudah lebih dari cukup menjadi mama yang terbaik yang mengajari kami mengandalkan kekuatan dan kasih sayang Allah, menjadi panutan kesederhanaan untuk tulus berjuang agar dapat bermanfaat baik bagi sesama manusia…

Salam rindu ya mah, dari anak bungsu mama dirantau yang sedang berharap banyak, lewat doa mama… semoga Allah meridhoi serta merestui segala urusan agar dilancarkan dan dimudahkan. karena mama yang sering berkali-kali bilang bahwa "teruslah menyelesaikan dengan baik apa yang sudah kamu mulai... Allah maha baik dan mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan kamu perjuangkan...."


Terimakasih mama, God knows How much I love you……


Love, Putri.

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com” 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar